Renovasi Musholla Al Hikmah Tidak Sesuai Gambar , Jaksa Diminta Lakukan Penyelidikan

Investigasi307 Dilihat

Renofasi Musholla Al Hikmah , foto (dian bs)

Karimun,potretkepri.com– Musholla Al Hikmah yang beralamat di RT.01/ RW.04, Desa Pangke, Kecamatan Meral Barat Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri , menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD) Tahap III. TA 2019. sebesar Rp.130 Juta rupiah dikerjakan tidak sesuai dengan gambar , akibatnya masyarakat merasa kecewa termasuk Imam Musola , Ita Karsita.

Kekecewaan ini terungkap ketika potretkepri.com bertanya terkait renovasi mushola tersebut. Imam mushola Ita Karsita kepada media ini berkata ada yang berubah dengan renovasi ini namun tanpa pemberitahuan sama sekali , yang mana sesuai gambar seharusnya ada pemasangan jendela. ” renovasi ini tidak sesuai gambar , seharusnya ada jendela ” ujarnya.

Baca Juga : Pekerjaan Mushollah Al Hikmah Kampung Suka Damai Gunakan Dana Desa, Kurang Transfaran

Ita Karsita , mengatakan mengingat mosholla ini adalah untuk rumah ibadah sehingga ia bersedia memberikan informasi yang diperlukan sesuai gambar yang sebelumnya diperlihatkan. ” inikan buat kebaikan dan buat rumah ibadah , kenapa saya mesti takut,” sambunya.

Sementara itu Bayu sebagai kepala tukang saat di konfirmasi terkait renovasi musholla ini mengakui bahwa memang musholla tersebut harusnya memiliki jendela.Namun Bayu mengatakan tidak bisa mengambil pekerjaan renovasi ini disebabkan adanya pekerjaan diluar yang yang belum clear. Ia berkata turut kecewa dengan renovasi yang berbeda dengan gambar yang semestinya.Semtara itu lanjut dia , kalau kasat mata saya , dengan besara dana Rp 130 juta bisa dapat perbaikan atap tempat wudhu.

Semetara itu , Sekretaris Desa (Sekdes) Pangke, Hakiki saat dikompirmasi potretkepri, Kamis (23/04-2020) di ruang kerjanya menerangkan, biaya Rp 130 Juta lebih itu digunakan hanya untuk merenovasi atap memang banyak lebih. Cuman permasalahan anggaran yang sampai Rp 130 Juta lebih itu hanya untuk belanja material saja sudah Rp 62.000.000 , juta.Diungkapkannya, dari 62 juta itu digunakan untuk membeli atap Spandik 10 Kodi (per kodinya Rp.1.750.000), kayunya diganti alummunium (baja ringan) bentuk V 200 batang, (per-batang Rp.80.000,-) yang bentuk U 300 batang (per-batang Rp.65.000,-) dan semua alummunium dilapis 2.

” Ditambah lagi upah pekerja Rp 50 Juta yang diambil 30 persen dari biaya seluruh pembangunan. Contohnya bila APBDes Rp.1,8 Milyar dengan 10 kegiatan pembangunan, maka dari 10 pembangunan yang nilainya Rp 1,8 Milyar inilah 30 persen diambil untuk upah pekerja,Upah pekerja 30% dari APBDes berdasarkan Permendes No.16, 18 Tahun 2019, Pasal 8 ayat (3),” terangnya.

Ia menambahkan , rincian dari Rp 130 juta lebih itu, terdiri dari Rp 62 juta material, ditambah Rp 50 Juta upah pekerja, pajak Rp 7,5 Juta, perencanaan Rp 2 Juta lebih, TPK Rp 3 juta lebih dan yang lain-lainnya. Sedangkan upah pekerja bisa mencapai sampai Rp 50 Juta itu ditentukan oleh Konsultan.

“Uang Rp 130 Juta lebih itu juga berdasarkan azas-azas keuangan yaitu azas prinsip hemat, efektif dan efesien serta tidak ada pemborosan. Sehingga dari Rp 130 Juta lebih itu masih ada sisa Rp 3,5 Juta, dan sudah kita kembalikan,” terang Hakiki.

Namun di sisi lain sambu dia , dengan sedikit merasa kesal , Hakiki menyampaikan bahwa sudah banyak yang datang kesini (tempat dia-red), baik itu dari Dinas PMD, Satgas Dana Desa, kejaksaan, macam-macam Media dan LSM.

“Coba itu perhatikan banyak pekerjaan Pemerintah Daerah yang mangkrak, seperti gedung KECC di Coastal Area, pelabuhan Malarko di teluk Mesodo Pongkar, itu biayanya Milyaran Rupiah, mangkrak itu semua. Giring itu semua sampai habis, jangan hanya Desa Pangke ini saja diperhatikan terus,” ujarnya.

“Itu lagi gerbang Mesjid Baitul Rahman yang di Kecamatan Karimun tak selesai-selesai giring juga itu sampai habis,kalau memang ada yang menyalah , kami siap diperiksa dan kroscek langsung TKP bawa pihak terkait apa pun permasalahannya kami siap,” tutup Hakiki.(dian)