Jakarta ,potretkepri.com– Berinvestasi saham di pasar modal Indonesia kini sedang digandrungi oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pekerja, milenial sampai ibu rumah tangga. Hal ini tentu didasari oleh kemudahan bertransaksi saham yang kini bisa dilakukan dari rumah secara digital melalui transaksi online.
Situasi bisnis di sektor rill yang cenderung tidak kondusif turut memacu booming-nya investasi saham. Sebab,dana investasi yang sedianya dialokasikan kesektor usaha, namun karena terjadi stagnasi akibat wabah COVID-19,bisa dialokasikan lebih dahulu keinstrumen saham.
Meski begitu, bagi investor pemula harus dapat mengenali dan mengidentifikasi profil risiko masing-masing sebelum memulai untuk memilih produk investasinya. Kenali risiko dulu agar tetap nyaman dalam berinvestasi di pasar modal. Lalu, apa hubungan antara risiko dan kenyamanan?
Nah, ini jawabannya. Jika seorang investor tidak siap menghadapi risiko jangka pendek ketika mengalami kerugian investasi (capital loss) di pasar saham, maka hal tersebut akan mengakibatkan trauma atau kapok bagi investor untuk berinvestasi kembali.
Ada tiga karakter investasi pemodal atau disebut juga profil risiko, yaitu konservatif (risk averter), moderat, dan agresif (risk taker). Kita harus mencarita hudulu, kita merupakan tipe investor yang seperti apa. Ada beberapa versi kuesioner yang umumnya disiapkan perusahaan sekuritas tempat investor membuka rekening saham untuk mengidentifikasi profi lrisiko calon investor.
Kurang lebih pertanyannya akan mengarahkan responden untuk memilih pernyataan mana yang paling sesuai dengan diri masing-masing investor. Misalnya, pertama, saya ingin berinvestasi dalam jangka waktu satu tahun, pada instrument investasi yang menyerupai tabungan, atau deposito berjangka, dimana hamper tidak ada risiko penurunan nila iinvestasi awal saya.
Kedua, saya mengharapkan tingkat pengembalian hasil yang lebih tinggi dari tabungan dan deposito berjangka. Saya tidak siap menerima fluktuasinegatif dalam jangka pendek. Tingkat risiko rendah penting bagi saya. Tetapi saya siap mengalokasikan sebagian dana pada instrumen yang memberikan hasil investasi dan risiko yang lebih tinggi dari tabungan dan deposito.
Ketiga, saya mengharapkan nilai investasi tumbuh dan pengembalian hasil yang tinggi. Saya dapat menerima fluktuasi investasi negative dalam jangka pendek, termasuk kemungkinan investasi awal.Keempat, saya mengharapkan nilai investasi saya tumbuh sangat pesat. Saya dapat menerima fluktuasi negatif yang signifikan dalam jangka pendek, termasuk kemungkinan penurunan nilai atau kehilangan seluruh investasi awal.
Jika seorang calon investor memilih pilihan pertama, maka ia dapat dikatagorikan sebagai tipe investor konservatif atau menghindari risiko, yaitu hanya mau berinvestasi dalam jangka pendek, dan tidak mau memikul penurunan nilai investasi awal. Tipe seperti ini tidak cocok untuk ber investasi saham. Ada baiknya investor menyimpan uangnya pada instrument deposito dan obligasi atau surat utang negara yang jatuh temponya pendek.
Jika seorang investor memilih pilihan kedua dan ketiga, maka dia masuk dalam tipe investor moderat. Siap menerima risiko turunnya investasi dalam jangka pendek,tetapi tidak siap jika kehilangan seluruh modal investasi. Tipe moderat yang kedua hanya bisa berinvestasi saham dengan porsi kecil antara 10-30% dari total dana investasi yang dimiliki. Sebagian besarnya bisa dialokasikan keobligasi, surat utang negara dan instrumen pasar uang yang ada di bank, yaitu deposito dan sejenisya.Tipe moderat dengan pilihan jawaban ketiga, bisa mengalokasikan dana investasi keinstrumen saham lebih banyak,yaitu 50% dengan komposisi berimbang. Separuhny akeproduk pendapatan tetap yaitu obligasi dan surat utang negara.
Sementara investor agresif yang memilih jawaban keempat,bisa mengoptimalkan dana investasinya antara 70-100% pada instrument saham, karena tipe ini siap menerima fluktuasi negative dalam jangka pendek dan risiko kehilangan seluruh modal investasi awal. Tentu saja toleransi risiko yang tinggi ini akan seimbang dengan potensi return atau capital gain yang tinggi, yang bisa diperoleh dalam jangkawaktu yang relative panjang.
Penentuan tingkat risiko ini sejalan dengan prinsip “high risk, high return, low risk, low return”. Jika seorang investor tidak berani menanggung risiko yang besar, maka hasil investasinya pun akan relative rendah. Sebaliknya, hasil investasi tinggi berpeluang untuk diterima sang risk taker yang siap menerima risiko tinggi pula. *** (TIM BEI)






