Yogyakarta,potretkepri.com-Animal Friends Jogja (AFJ) kembali memperkuat perannya dalam pendidikan sosial dan lingkungan dengan menjadi mitra dalam Program Pengelolaan Potensi Diri Mahasiswa (P3DM) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Melalui lima sesi edukatif sepanjang bulan Maret, AFJ mendorong mahasiswa untuk lebih kritis terhadap relasi manusia dengan hewan, serta menyoroti penderitaan hewan yang diternakkan—isu yang kerap terabaikan dalam wacana sosial dan lingkungan.
Rangkaian kegiatan ini diawali dengan pengenalan terhadap misi dan kerja advokasi AFJ dalam menyuarakan hak dan kesejahteraan hewan. Mahasiswa diajak mengenali berbagai bentuk eksploitasi terhadap hewan—dari industri hiburan, eksperimen, perdagangan satwa, hingga fashion dan peternakan. Sesi ini memperkuat pemahaman bahwa hewan bukanlah komoditas, melainkan individu yang memiliki hak hidup bebas dari penderitaan.
Pada sesi kedua, mahasiswa terlibat dalam workshop memasak berbasis nabati bersama dua inisiatif lokal, Nabati Nusantara dan Nutrisi Esok Hari, yang merupakan inisiatif untuk kembali ke pola pangan nabati yang lebih berkelanjutan dan berwelas asih. Lewat praktik membuat bakso vegan berbahan dasar kacang tolo, mahasiswa diperkenalkan pada gaya hidup yang sehat dan tidak melibatkan kekejaman terhadap hewan.
Sesi ketiga membahas isu perdagangan daging anjing melalui kampanye Dog Meat Free Indonesia (DMFI). Mahasiswa diajak memahami dampak buruk praktik ini, baik terhadap kesejahteraan hewan maupun kesehatan masyarakat. AFJ mendorong mahasiswa untuk mengambil sikap aktif—menolak konsumsi daging anjing, melaporkan kekejaman melalui hotline DMFI, serta mendukung adopsi hewan alih-alih membeli dari praktik pembiakan yang eksploitatif.
Fokus utama pada isu kesejahteraan hewan yang diternakkan ditampilkan secara mendalam dalam sesi keempat. Mahasiswa diajak membedah realitas di balik industri peternakan modern—mulai dari proses pemeliharaan, transportasi, hingga penyembelihan hewan. Diskusi difokuskan pada kondisi ayam petelur dalam sistem kandang baterai yang menimbulkan penderitaan besar dan tidak memenuhi prinsip kesejahteraan hewan. Melalui pendekatan kampanye Cage-Free Indonesia, mahasiswa didorong untuk mengkritisi pilihan konsumsi mereka serta memahami dampak etis dan lingkungan dari sistem produksi pangan hewani. Sesi ini menjadi ruang reflektif sekaligus edukatif yang membuka mata mahasiswa tentang penderitaan sistemik hewan yang diternakkan yang selama ini sering luput dari perhatian publik.
Sebagai penutup, mahasiswa diajak langsung merawat anjing dan kucing di rumah singgah AFJ—memberi makan, membersihkan kandang, dan berinteraksi langsung dengan hewan-hewan yang diselamatkan dari kondisi eksploitasi. Sesi ini bertujuan menumbuhkan empati dan kesadaran bahwa hewan pun memiliki kebutuhan, perasaan, dan hak untuk hidup layak.
Sebagai mitra program, AFJ hadir dengan pendekatan berbasis empati dan humanisme. Kolaborasi ini memperkuat komitmen untuk menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya peduli pada keadilan sosial dan lingkungan, tetapi juga memperjuangkan suara-suara yang kerap tak terdengar—termasuk suara hewan yang diternakkan.
“Kami percaya bahwa anak muda memiliki peran penting dalam menciptakan perubahan sosial yang lebih adil dan berwelas asih. Melalui P3DM UKDW 2025, kami ingin menginspirasi mahasiswa untuk bertindak demi keadilan sosial, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan hewan—khususnya mereka yang selama ini tersembunyi di balik industri, seperti hewan yang diternakkan,” ujar Nanda, Program Manager for Farmed Animals AFJ.
Melalui kegiatan ini, Animal Friends Jogja terus memperkuat perannya sebagai pelopor advokasi kesejahteraan hewan dan membangun masa depan yang lebih adil bagi semua makhluk hidup—manusia maupun non-manusia.(rls)






