Asap di Malaysia dan Singapura Bukan Kiriman Indonesia

oleh -38 Dilihat
oleh
foto / ilustrasi. potretkepri.com

Keringnya lahan akibat tidak adanya musim penghujan di wilayah Sumatera dan Kalimantan telah menyebabkan bencana asap akibat pembakaran lahan dan hutan.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya kepada redaksi sesaat lalu, Kamis (27/2).

Sutopo menjelaskan, pada hari ini pantauan satelit NOAA18 titik api terpantau di Aceh 17, Kaltim 12, Kalbar 10, Sumut dan Kaltara 4. Tidak terpantau adanya titik api di Riau. Asap yang berasal dari lahan gambut yang terbakar tidak terpantau satelit.

“Berdasarkan analisis, asap yang ada di wilayah Malaysia dan Singapura bukan berasal dari Indonesia karena arah angin dominan dari utara hingga timur laut ke arah selatan dan barat daya. Dari pantauan satelit di wilayah Malaysia terpantau beberapa titik api,” terangnya.

Dalam rakor tingkat menteri untuk antisipasi pembakaran lahan dan hutan di Kantor Kemenkokesra hari ini (Kamis, 27/2) yang dipimpin Menkokesra, BMKG melaporkan sekitar 70 persen wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada April, Mei dan Juni 2014. Diperkirakan kemarau lebih kering daripada 2013. Umumnya puncak pembakaran lahan dan hutan di Sumatera pada Juli-Oktober dan di Kalimantan pada Agustus-Oktober.

“Untuk antisipasi bencana asap maka BNPB telah melakukan rakor dengan kementerian, lembaga, BPBD dan pemda. Pemda tetap sebagai penanggung jawab yang didukung oleh Pemerintah Pusat. Kemenkokesra sebagai koordinator, dan BNPB sebagai pemegang komando didukung oleh kementerian/lembaga,” ujar Sutopo.

Pemadaman akan dilakukan tiga operasi, yaitu operasi darat, operasi udara, dan operasi penegakan hukum dan sosialisasi. Untuk operasi di darat, kata Sutopo, BNPB telah meminta dukungan TNI-AD sebanyak 2 batalyoegann. Berkoordinasi dengan Kemenhut untuk menggerakkan 1.755 personil Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api. “Kepada Polri, PPNS di Kemenhut, Kementan dan KLH agar meningkatan penegakan hukum dan sosialisasi,” ungkapnya.

Untuk operasi di udara, maka akan dilakukan water bombing dan modifikasi cuaca atau hujan buatan. Sebanyak 2 pesawat amphibi BE-200, 2 helicopter Kamov, 2 helicopter Sikorsky, dan 4 helicopter Bolco akan dikerahkan untuk water bombing.

Sedangkan untuk modifikasi cuaca, tambah Sutopo, akan digunakan 2 pesawat Hercules C-130 dan 6 pesawat Casa 212. Semua akan dioperasikan di Sumatera dan Kalimantan sesuai kebutuhan. BNPB telah menyiapkan dana siap pakai Rp 300 milyar untuk penanganan bencana asap selama tahun 2014 di seluruh wilayah Indonesia. Pemakaiannya disesuaikan kebutuhannya.

Kunci utama mengatasi pembakaran lahan dan hutan adalah penegakan hukum, sosialisasi, dan pemadaman secara masif,” tandasnya.
sumber: rmol